Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Friday, October 2, 2015

Thrumping Glockieth


Thrumping Glockieth
 

Saat berharap menjadi semakin menyakitkan
Maka percayalah akan yang kau impikan

Lonely Girl At Sunset wallpaper

Segala angan dan impian yang kau genggam
Segala tawa dan bahagia yang menanti di ujung jalan

Sunday, August 30, 2015

10 hal yang aku harap aku tahu dimasa remajaku saat aku didiagnosis mengidap penyakit kronis

 10 hal yang aku harap aku tahu dimasa remajaku saat aku didiagnosis mengidap penyakit kronis


Kuliah umumnya digambarkan sebagai masa dimana belajar hingga larut menjadi rutinitas, banyaknya teman dan momen-momen menyenangkan yang hadir pada tahun-tahun yang akan menentukan kesuksesan hidup para remaja. 
 
Bisakah kamu bayangkan betapa kecewa saya ketika rasa sakit dan lemah mulai hadir di dalam hari-hariku, dan hal yang paling dekat bagiku adalah gurauan dokterku mengenai kulit pucatku yang sedang berkompetisi dengan pucatnya dinding yang menglilingi kamar rumah sakit. Entah sampai saat ini aku tak bisa mengerti gurauannya.

Hal itu terjadi satu tahun sebelum aku memasuki perguruan tinggi, ketika itu aku didiagnosis dengan Ehlers-Danlos syndrome (EDS), serta kondisi komorbiditaspenyakit sel mast dan postural ortostatik takikardia syndrome, atau disingkat POTS.  

Menerima diagnosis untuk gejala kronis semacam ini yang mengganggu tubuhku merupakan hal yang menakutkan, tidak diragukan lagi. Terlepas dari diagnosis itu, aku tidak kehilangan harapan atas masa-masa remaja yang akan aku lalui. Namun, butuh waktu bertahun-tahun untuk aku menyadari semuanya.

Inilah 10 hal yang aku harap aku tahu dimasa remajaku saat aku didiagnosis mengidap penyakit kronis semacam itu :
 https://justagirlinpain.files.wordpress.com/2015/05/wpid-wp-1432754051814.jpeg?w=1200
1. Kamu Tidak Sendiri
Aku menghabiskan banyak hari menatap langit-langit rumah sakit, merasa seolah-olah tidak ada siapapun yang mengerti apa yang aku alami. Mungkin ada orang lain di dunia yang melalui pengalaman yang sama denganku, tapi bukan itu masalahnya! Janganlah takut untuk berhubungan dengan orang lain. Gunakan  media sosial atau bergabung dengan kelompok-kelompok sosial untuk bertemu orang-orang lainnya yang juga sedang berhadapan dengan penyakit. Berbagilah cerita, saran, dan pengalaman. Sadarilah bahwa "kamu tidak sendiri."

Friday, August 28, 2015

Surat Terbuka Untukmu yang Terpengaruh Oleh Kecemasanku

 Surat Terbuka Untukmu yang Terpengaruh Oleh Kecemasanku

 

  Biarkan aku memulainya dengan menjelaskan sesuatu. Saat aku mengatakan "kecemasan," aku tidak hanya berbicara tentang ketakutanku atau situasi yang membuatku gugup. Aku tidak berbicara mengenai kecemasan yang biasa dihadapi setiap orang sepanjang hidup mereka. Aku sedang berbicara tentang Generalized Anxiety Disorder (GAD) - yaitu suatu kondisi mental yang mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupanku melalui satu dan lain hal.

  Kamu mungkin pernah melihat tingkah laku ku yang sangat gugup : Mengubah rencana pada menit-menit terakhir. Membuat-buat alasan untuk bisa tetap tinggal di rumah. Menyendiri dan tiba-tiba menangis. Sesak napas, gelisah, takut akan situasi yang akan datang , tak mampu untuk pergi sendirian, serta kepanikan yang datang tiba-tiba.


   Aku mencoba untuk menyembunyikan apa yang ku alami, tetapi aku tahu kamu memperhatikannya. Kamu memperhatikannya karena kamu peduli. Dan karena kamu peduli, kamu sering mencoba untuk membantu. Kamu memberitahuku untuk mengambil napas dalam-dalam. Kamu memberitahuku untuk tenang dan berhenti khawatir. Dengan niat baik, kamu mengutip ayat-ayat dan do'a dari berbagai kitab dan buku untuk menegaskan kepedulianmu. Kamu berusaha sangat keras untuk membuat situasi menjadi lebih baik. Tapi itu tidak pernah berhasil. Bahkan untuk satu kali pun. Tidak pernah.

   Aku menulis surat ini karena aku ingin jujur kepadamu. Aku ingin kamu memahami kecemasan macam apa yang aku hadapi dan bagaimana rasanya, karena aku ingin kamu untuk tahu, aku tidak mengabaikanmu. Aku tahu emosiku sulit untuk kamu hadapi dan bagaimana tidak mudahnya hubungan yang kita jalani. Untuk alasan itu, aku merasa aku berhutang sebuah penjelasan kepadamu.

   
   Kecemasan ini terasa seperti lautan. Ketika hal itu datang, aku berjuang untuk menjaga pikiranku tetap berada di atas air. Rasanya luar biasa, setiap detiknya aku merasa aku akan tenggelam. lautan yang kubicarakan ini sangat besar, begitu luas, rasanya lebih jauh dari apa yang bisa aku lihat. Airnya begitu gelap dan berat. Semakin aku berjuang melawan itu semua, semakin tinggi kuat hantaman yang kuterima.   

   Kata-kata "tenanglah" darimu memaksaku untuk berjuang melawan kecemasan itu. Namun hal itu hanya menambah kecemasan yang datang.