Showing posts with label Potongan Novel. Show all posts
Showing posts with label Potongan Novel. Show all posts

Friday, October 2, 2015

Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

 

Perjumpaan perempuan yang pendiam dengan laki-laki yang tak peka adalah bencana. Adalah erupsi gunung berapi. Adalah banjir bandang. Adalah angin puting beliung. Adalah tsunami. Adalah aku dan kamu.


Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku yang terlalu lugu—merasa bahwa semua baik-baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.

Monday, September 28, 2015

Ja(t)uh




Ja(t)uh


Kamu pasti takut sendiri
Aku juga.

Kemarin waktu kau bilang kau akan pergi jauh,
Aku makin takut.
Ada semacam perih dalam hati yang membuat mataku dipaksa berair,
Pipiku becek.
 
Sayang, air mataku, sederas dan sebanyak apapun ia mengalir,
Tampaknya tak punya daya menahanmu untuk tetap disini.

Maka detik itu aku pura-pura tersenyum,
Detik selanjutnya aku menyadari bahwa tersenyum sama sekali tak melegakan.

Bila kau mengerti.

Dalam senyum yang kubuat-buat itu sebenarnya hatiku berdo’a,

“Tuhan, tak bisakah Kau lewatkan aku dari cerita tentang keterpisahan ini ?”

Saturday, September 26, 2015

Nyanyian Ombak

Nyanyian Ombak

 
Pesisir yang kuat adalah cintaku
Dan aku adalah kekasihnya.
Kami akhirnya bersatu dalam cinta,
Lalu bulan mengambilku darinya.

Aku pergi ke bulan dengan enggan, dan Sedikit perpisahan.
Aku dengan cepat mencuri waktu
Dari Horizon biru untuk melemparkan buih perakku,
Di atas pasir emasnya, dan Kami bercampur dalam kecerdasan.
Aku memuaskan dahaganya dan menyelami hatinya
Ia melembutkan suaraku dan sifatku.
 
Dalam fajar aku mengumandangkan peraturan cinta dalam telinganya
Ia memelukku dengan erat.
Di tengah hari aku bernyanyi untuknya Lagu harapan,
Lalu mencetak ciuman lembut di wajahnya
Aku tergesa-gesa dan takut,
Namun ia diam, sabar, dan berpikir.
Dada lebarnya menenangkan keletihanku.

Friday, September 25, 2015

Pertemuan Di Galeri Dentsu

Pertemuan di Galeri Dentsu

     Tiga pria berpakaian necis datang ke hotel tempat saya menginap di Tokyo.

“Kemarin anda memberikan ceramah di Galeri Dentsu,” salah seorang dari mereka berkata. “Kebetulan saya datang ke sana, dan saya tiba tepat pada waktu anda mengatakan bahwa tidak ada pertemuan yang terjadi secara kebetulan. Barangkali kami perlu memperkenalkan diri terlebih dahulu.”
     Saya tidak bertanya, bagaimana mereka tahu di mana saya menginap. Orang-orang yang bisa mengatasi kesulitan-kesulitan semacam itu layak mendapatkan rasa hormat kita. Salah seorang pria itu menyodorkan beberapa buah buku yang ditulis dalam kaligrafi Jepang. Penerjemah saya langsung bersemangat. Pria itu ternyata Kazuhito Aida, putra seorang penyair Jepang yang terkenal, yang namanya belum pernah saya dengar.

     Dan juru misteri sinkronisitas inilah yang membukakan pintu bagi saya untuk mengenal, membaca, dan berbagi dengan para pembaca saya, sekelumit karya cemerlang Mitsuo Aida (1924-1991), penyair dan ahli kaligrafi yang puisi-puisinya mengingatkan kita akan pentingnya keluguan hati.

Nyanyian Hujan

Nyanyian Hujan

Aku ditandai dengan benang perak yang jatuh dari surga

Dikirim oleh para dewa.
Alam lalu mengambilku,
Untuk mengagungkan ladang dan lembahnya.
Aku adalah mutiara yang indah,
Dipungut dari Mahkota Ishtar oleh puteri-puteri
Fajar untuk menghias kebun.

Thursday, September 24, 2015

Di Sebuah Kota di Jerman

Di Sebuah Kota di Jerman




     “Monumen ini menarik, bukan ?” kata Robert.

  Matahari akhir musim gugur mulai tenggelam. Kami sedang berada di sebuah kota di Jerman.

     “Aku tidak melihat apa-apa,” kata saya.  “Hanya ada lapangan kosong.”
     “Monumennya ada di bawah kaki kita,” Robert bersikeras.

  Saya memandang ke bawah. Saya hanya melihat lempeng-lempeng batu biasa, dan semuanya serupa. Saya tidak ingin mengecewakan teman saya, tetapi saya tidak melihat apa pun di lapangan itu.

Saturday, September 19, 2015

Siapa yang Menginginkan Lembaran 20 Dollar Ini ?

Siapa yang Menginginkan Lembaran 20 Dollar Ini ?

   Carson Said Amer menceritakan kisah seorang pengajar yang memulai seminar dengan memperlihatkan selembar uang 20 dollar dan bertanya,

“Siapa yang menginginkan lembaran 20 dollar ini ?”
   Beberapa orang mengangkat tangan, tetapi si pengajar berkata,

“Sebelum saya memberikannya kepada anda, saya ingin melakukan sesuatu.”
   Dia meremas-remas lembar uang itu dan berkata,

“Siapa yang masih menginginkan uang ini ?”


   Tangan-tangan kembali teracung.


"Dan bagaimana kalau saya melakukan ini ?”

Friday, September 18, 2015

Semesta di Dalam Jiwa

Semesta di Dalam Jiwa

   Pertemuan di rumah seorang pelukis kelahiran Sao Paulo yang berbasis di New York. Kami mengobrol  tentang malaikat-malaikat, dan alkimia. Kemudian saya berusaha menjelaskan kepada tamu-tamu lainnya mengenai gagasan alkimiawi, yakni bahwa masing-masing dari kita menyimpan keseluruhan alam semesta di dalam diri kita, dan karenanya kita bertanggung jawab atas kesejahteraannya. Saya berusaha keras untuk mencari kata yang tepat untuk menjelaskan maksud saya.

The Universe in Mans Head. From www.123rf.com
   Si pelukis, yang sejak tadi mendengarkan tanpa banyak berbicara, meminta semua yang hadir untuk melihat keluar jendela studionya.

“Apa yang anda lihat ?” Tanyanya.
“Sebuah jalan di Greenwich Village,” seseorang menjawab.