Surat Terbuka Untukmu yang Terpengaruh Oleh Kecemasanku
Kamu mungkin pernah melihat tingkah laku ku yang sangat gugup : Mengubah rencana pada menit-menit terakhir. Membuat-buat alasan untuk bisa tetap tinggal di rumah. Menyendiri dan tiba-tiba menangis. Sesak napas, gelisah, takut akan situasi yang akan datang , tak mampu untuk pergi sendirian, serta kepanikan yang datang tiba-tiba.
Aku mencoba untuk menyembunyikan apa yang ku alami, tetapi aku tahu kamu memperhatikannya. Kamu memperhatikannya karena kamu peduli. Dan karena kamu peduli, kamu sering mencoba untuk membantu. Kamu memberitahuku untuk mengambil napas dalam-dalam. Kamu memberitahuku untuk tenang dan berhenti khawatir. Dengan niat baik, kamu mengutip ayat-ayat dan do'a dari berbagai kitab dan buku untuk menegaskan kepedulianmu. Kamu berusaha sangat keras untuk membuat situasi menjadi lebih baik. Tapi itu tidak pernah berhasil. Bahkan untuk satu kali pun. Tidak pernah.
Aku menulis surat ini karena aku ingin jujur kepadamu. Aku ingin kamu memahami kecemasan macam apa yang aku hadapi dan bagaimana rasanya, karena aku ingin kamu untuk tahu, aku tidak mengabaikanmu. Aku tahu emosiku sulit untuk kamu hadapi dan bagaimana tidak mudahnya hubungan yang kita jalani. Untuk alasan itu, aku merasa aku berhutang sebuah penjelasan kepadamu.
Kecemasan ini terasa seperti lautan. Ketika hal itu datang, aku berjuang untuk menjaga pikiranku tetap berada di atas air. Rasanya luar biasa, setiap detiknya aku merasa aku akan tenggelam. lautan yang kubicarakan ini sangat besar, begitu luas, rasanya lebih jauh dari apa yang bisa aku lihat. Airnya begitu gelap dan berat. Semakin aku berjuang melawan itu semua, semakin tinggi kuat hantaman yang kuterima.
Kata-kata "tenanglah" darimu memaksaku untuk berjuang melawan kecemasan itu. Namun hal itu hanya menambah kecemasan yang datang.





