Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Tuesday, October 13, 2015

Kala Rasa Menyapa


Kala Rasa Menyapa


Ini adalah sebuah ungkapan yang keluar dari sebuah rasa..
Rasa yang aku tidak mengerti harus menyebutnya apa..
Rasa itu membuat dada sesak dan salah tingkah..
Bayang-bayang itu menghantuiku dan seakan selalu ada disetiap langkahku..


Aku berbicara apa?
Entahlah..
aku pun tidak mengerti..
Detak jantung ini seakan berdegup tidak menentu, 
sangat kencang.. hingga nyaris terdengar ditelinga ..

Friday, October 2, 2015

Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

 

Perjumpaan perempuan yang pendiam dengan laki-laki yang tak peka adalah bencana. Adalah erupsi gunung berapi. Adalah banjir bandang. Adalah angin puting beliung. Adalah tsunami. Adalah aku dan kamu.


Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku yang terlalu lugu—merasa bahwa semua baik-baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.

Monday, September 28, 2015

Ja(t)uh




Ja(t)uh


Kamu pasti takut sendiri
Aku juga.

Kemarin waktu kau bilang kau akan pergi jauh,
Aku makin takut.
Ada semacam perih dalam hati yang membuat mataku dipaksa berair,
Pipiku becek.
 
Sayang, air mataku, sederas dan sebanyak apapun ia mengalir,
Tampaknya tak punya daya menahanmu untuk tetap disini.

Maka detik itu aku pura-pura tersenyum,
Detik selanjutnya aku menyadari bahwa tersenyum sama sekali tak melegakan.

Bila kau mengerti.

Dalam senyum yang kubuat-buat itu sebenarnya hatiku berdo’a,

“Tuhan, tak bisakah Kau lewatkan aku dari cerita tentang keterpisahan ini ?”

Saturday, September 26, 2015

Nyanyian Ombak

Nyanyian Ombak

 
Pesisir yang kuat adalah cintaku
Dan aku adalah kekasihnya.
Kami akhirnya bersatu dalam cinta,
Lalu bulan mengambilku darinya.

Aku pergi ke bulan dengan enggan, dan Sedikit perpisahan.
Aku dengan cepat mencuri waktu
Dari Horizon biru untuk melemparkan buih perakku,
Di atas pasir emasnya, dan Kami bercampur dalam kecerdasan.
Aku memuaskan dahaganya dan menyelami hatinya
Ia melembutkan suaraku dan sifatku.
 
Dalam fajar aku mengumandangkan peraturan cinta dalam telinganya
Ia memelukku dengan erat.
Di tengah hari aku bernyanyi untuknya Lagu harapan,
Lalu mencetak ciuman lembut di wajahnya
Aku tergesa-gesa dan takut,
Namun ia diam, sabar, dan berpikir.
Dada lebarnya menenangkan keletihanku.

Friday, September 25, 2015

Pe-Patah

Pe-Patah

Di antara keberadaanku, belum sempat pun ku terjaga.

Pada sebuah naungan, aku mimbarkan selaksa nestapa

Yang masih tetap mengurungku dalam luka.
 
Dalam semburat senja yang terpancar di keheningan,

Aku pun berubah menjadi debu yang beterbangan.

Mengatup semua mata yang memandang hina


Nyanyian Hujan

Nyanyian Hujan

Aku ditandai dengan benang perak yang jatuh dari surga

Dikirim oleh para dewa.
Alam lalu mengambilku,
Untuk mengagungkan ladang dan lembahnya.
Aku adalah mutiara yang indah,
Dipungut dari Mahkota Ishtar oleh puteri-puteri
Fajar untuk menghias kebun.

Wednesday, September 23, 2015

Sepertinya

Sepertinya 

Tak satu pun bisa kuabaikan tentangmu.
Lesatan-lesatan adalah ketertegunanku
yang terlebih dalam ketercapaian
yang tak sempat pula kita tengadah bersama.
Lamunan hanya bisa dibawa menggila, di setiap dengungan.


Igaumu terngiang pada igauku.
Suaramu parau membasahi paruku, lambungku, tenggorokanku
yang tak bisa berucap kata
i love you,
dan memias seperti bedak yang tak lengkap kau bereskan.
Sepertinya aku memang jatuh cinta padamu.
Pada ubun-ubunmu dan dua matamu yang masih juga belum bisa melihat aku.